Banyak hal yang terjadi selama 4 bulan
kepergiaanku. Sebelum keberangkatan aku
selalu berpikir bahwa semua akan jauh lebih indah setelah kepergiaanku. Tapi, tidak ada orang yang dapat menebak
bagaimana takdir bertindak mengeksekusi kehidupan manusia. Tanpa daya, kita manusia, hanya dapat
menerima yang telah ditakdirkan.
Seberapa kuat tenaga yang kita keluarkan untuk
melawannya. Semuanya, hanya
sia-sia. Selama 4 bulan ini, aku mengira
aku telah mendapatkan kehidupan almost-perfect dalam hidupnya. Tapi ternyata di dalam almost-perfect itu
terdapat banyak unperfect.
Dan, akhirnya aku mengalami apa yang sering orang katakana
white lie. Aku dibohongi oleh keluargaku
sendiri hanya demi menjaga perasaanku.
Aku kehilangan kakekku pada tanggal 7 Juni, tapi tidak ada seorang pun
yang memberitahuku. Mereka
menyembunyikan rahasia ini segitu rapatnya hingga aku baru bisa mengetahuinya
pada tgl 27 Juni.
Tidak ada kata yang dapat mengungkapkan bagaimana
perasaanku pada malam itu. Aku merasa
hancur dan serapuh-rapuhnya. Kakek yang
paling kusayangi selama ini telah meninggalkan dunia ini untuk selamanya. Kakek yang berjanji akan menunggu pulang telah
pergi sembari membawwa pergi janji kita berdua.
Setiap detik yang kulalui seakan sedang menapak
selangkah demi selangkah untuk keluar dari jurang tak bertepi. Setiap detik yang kulalui seakan seperti waktu
yang tidak akan pernah melangkah pergi.
Hanya berdiri tetap disana.
Kesakitan dalam hati itu hanya dapat mengalir keluar
membentuk buliran-buliran airmata yang tiada akhir. Aku merasa kehilangan. Kehilangan yang paling sakit yang pernah aku
rasakan.
Bagaimana rasanya saat kamu menyayangi
seseorang. Ingin bertemu dengannya. Ingin berbicaranya dengannya. Tetapi, kenyataan memberitahukanmu bahwa
orang itu tiada lagi dalam dunia ini.
Seberapa ingin kamu mencari kesempatan untuk bertemu. Kesempatan itu tidak akan pernah muncul.
Dan, aku merasakan hidupku akan berubah tanpa
kehadiran kakek.