Aku berjalan disampingnya. Berusaha menyejajarkan langkahku dengan langkahnya.Kami sedang berjalan menyusuri pantai. Beberapa kali, ombak dari arah pantai akan menyapu kaki kami. Kesukaanku.
Setiap kali bila kami memiliki waktu luang, akan kami habiskan bersama. Baik hanya sekedar makan bersama ataupun menikmati pemandangan indahnya saat matahari kembali ke peradabannya.
Tapi, tempat favorit kami, tetaplah pantai. Sudah berpuluh kali kami menghabiskan waktu bersama disana.
Mengapa harus pantai?
Jawabannya simple. Karna pantai bisa menghadirkan suasana yang menenangkan.
Dia pernah berkata padaku, "Saat aku menutup mataku. Saat aku mendengarkan kicauan burung di langit. Saat aku mendengarkan paduan suara ombak. Dan saat kau berdiri di sampingku. Itulah saat dimana aku mendapat ketenangan."
Aku pernah berharap bahwa dia akan mengatakan, "Dan saat kau berdiri di sampingku. Itulah saat dimana aku merasa sebagai orang yang paling bahagia di dunia."
Kadang. Aku pernah bertanya pada yang diatas. Apakah salah jika aku memiliki perasaan ini? Apakah salah jika cintaku hanya bertepuk sebelah tangan? Apakah salah jika aku terus memendam perasaan ini?
Aku hanya ingin bersamanya. Melihatnya tertawa. Mendengarkan segala curahan hatinya. Menemaninya disaat dia membutuhkan seseorang.
Tidak banyak yang kuminta. Hanya satu. Aku ingin bisa terus berdiri disampingnya. Supaya disaat dia menolehkan kepalanya, dia bisa merasakan bahwa dia tidak sendirian. Aku akan selalu ada disana. Di tempat itu. Di sampingnya.
Jika kau bertanya padaku, apa yang aku suka darinya?
Aku akan menjawab, pertama.
Aku suka mendengarkan suaranya. Setiap kali, bila dia berbicara, aku akan terdiam, mendengarkan semua ceritanya dengan seksama.
Kedua. Aku suka melihat ke dalam matanya. Karna setiap kali aku melihat ke dalam sana, aku menemukan pandangan itu. Pandangan yang selalu membuatku merasa dilindungi.
Ketiga. Aku suka melihatnya tersenyum. Karna saat dia tersenyum, tanpa sadar aku juga akan tersenyum.
"Sudah waktunya pulang." dia berseru ringan padaku yang sedang tertinggal beberapa langkah darinya
"Jangan dulu. Aku masih ingin berada disini." jawabku lembut, selembut angin yang sedang menyapaku.
Aku berlari kecil menyusul dirinya. Saat ombak dari pantai kembali menyerangku, aku kehilangan keseimbangan. Aku berusaha menggapai dan memegang erat pada ujung kemeja putih yang sedang dipakainya. Dan inilah saat yang paling kunantikan. Dia menggapai tubuhku dan menjaga keseimbanganku supaya aku tidak jatuh terduduk di hamparan pasir yang sedang mengelilingi.
Aku tersenyum padanya. Dia tersenyum padaku.
Senja hari sudah hampir tergantikan posisinya oleh malam hari.
Ahhh. Waktu, kenapa kau berlalu begitu cepatnya? Tidak bisakah kau memperlambat jalanmu? Karna aku masih ingin bersamanya.
Aku tahu sudah waktunya bagi kami untuk pulang. Tapi, aku masih ingin bersamanya.
Bolehkah?
Kami berdiri bersampingan. Tidak ada yang memulai pembicaraan. Dan kesunyian mulai menyergap kami. Tidak tahu mengapa, tapi, aku menyukai suasana seperti ini. Suasana yagn sunyi dan sepi. Hanya terdengar suara dari alam. Satu yang paling penting. Aku bisa mendengar suara detak jantungku yang sedang berdegup dengan kencangnya.
Semakin cepat dia berdetak, semakin suka aku mendengarkannya.
"Ayo, kita pulang. Sudah hampir malam."
Dia menolehkan kepalanya ke arahku. Aku tidak bergerak. Pandanganku masih tetap tertuju lurus ke depan. Tapi, dari sudut mataku, aku bisa melihat bahwa bahasa tubuhnya sudah menandakan bahwa dia ingin segera pulang. Maka, aku pun mengiyakan.
Dalam perjalanan menuju tempat mobil kami diparkir, aku terus berpikir. Pernahkah dia menyadari bahwa aku menyimpan rasa cinta ini padanya? Apakah dia pernah menganggapku lebih dari seorang sahabat. Bisakah cinta ini tumbuh dengan subur jika aku rajin memupukinya setiap hari?
Pertanyaan yang sama terus terulang setiap kali aku bersamanya. Ada saatnya, aku ingin berteriak pada dunia. Membiarkan semua orang tahu, bahwa dulu aku mencintainya. Sekarang aku makin mencintainya. Dan untuk seterusnya, aku tidak akan pernah berhenti mencintainya.
Aku berjanji pada diriku sendiri. Bahwa hari itu akan tiba. Hari dimana aku mengungkapkan perasaanku padanya. Ya. Aku yakin. hari itu akan tiba, bila saatnya telah tiba.