Gee cuma bisa menggeleng kepalanya, sedangkan Mike menari-nari kegirangan ga jelas di dalam kamarnya.Sebentar-bentar Mike memutar tubuhnya bak balerina, sebentar lagi tertawa kegirangan, tapi lebih mirip orang gila sih.
Dan sekarang dia berlari ke arah Gee sambil menguncang tubuh cewek mungil itu.
"Halooooo....Mike.....Stop it!!"
Mike masih keasikan mengayunkan tubuh Gee ke kiri dan ke kanan.
"Now!! I mean it"
Mike langsung berhenti saat melihat muka Gee yang mulai keliatan galaknya.
"Ada apa sih nari-nari kayak orang gila, sembarangan mengayunkan tubuh orang ke kiri dan kanan. Perlu gue bawa ke psikiater??"
"Perlu. Perlu banget. Gue rasa gue uda mau gila."
Mike lalu mengambil tempat di samping Gee sambil terus mengembangkan senyumannya.
"Apaan sih??"
"Ntal gue ceritain. Sekarang gue capek abis nari."
"Ya uda."
Gee kembali melanjutkan tugasnya yang belum siap diketik.
Ga lama kemudian, Mike merebahkan punggungnya ke punggung Gee.
"Mike, berat nih. Kalo mau rebahan di kasur gue aja. Gue ini lagi sibuk, ntal jam 3 tugasnya uda mau dikumpulin."
"Bental aja, Gee. Gue tiba-tiba kangen masa-masa SMA kita dulu. Kita kan sekarang uda jarang banget ketemuan. Loe nya sih sibuk melulu. Kalo tadi gue ga maksain datang kesini, pasti loe ga bisa kan ketemuan ma gue. Ngaku aja dee. Uda punya cowok ya?? Ga mau peduliin temennya yang satu ini lagi yaa??"
"Dodol ahhh....Sapa yang uda punya cowok?? Gue ini memang lagi sibuk banget. Tugas kuliah banyak banget."
"Bercanda....bercanda...., tapi Gee. jujur aja. Gue bener-bener kangen banget ama loe."
"Dalam rangka??"
"Ga dalam rangka apa-apa, kangen kan ga perlu alasan. Loe kangen ga ma gue??"
"Kangen?? Biasa aja. ga segitunya kali."
"Yang bener?? Tapi gue yakin untuk seterusnya loe pasti bakalan kangen ma gue."
"Alasannya??"
"Ortu gue ngebolehin gue nyambung kuliah di Aussie. Jadi lusa gue akan berangkat ke Aussie. Nilai-nilai kuliah gue yang di UI bakalan ditransfer kesana."
Gee yang lagi konsentrasi mengerjakan tugasnya langsung berhenti sesaat.
Terdiam untuk waktu yang cukup lama sampai Mike mendorong punggung.
"Paan sih??"
"Kok diem?? Responnya mana??"
"Selamat ya. Pantesan aja loe nari-nari kayak orang gila hari ini."
"Cuma segitu??"
"Gue ikut bahagia."
"Terus?"
"Nabrak donk."
"Gee.....serius nih."
"Gue bahagia temen baik gue yang satu ini bisa mewujudkan cita-citanya."
"Ga ada pelukan??"
"Amit-amit dee."
"Gee...."
"Ya??..."
"Gue cuma mau bilang. Gue bakalan kangen berat ama loe. Akhir-akhir ini aja, gue ngerasa kehilangan loe. Loe seolah-olah sibuk dengan dunia kuliah loe sendiri. Ga seperti dulu. Kemana-mana selalu bersama. Sekarang?? Mau bicara ama loe aja susah amet. Gue ga suka temenan kek gini. Gue mau temen baik gue yang dulu. Gue mau Gee yang dulu, yang slalu ada buat gue. Yang slalu perlu bantuan dari gue. Yang slalu ceroboh. Yang suka nangis. Yang diem-diem naksir kakak kelas. Loe uda berubah Gee."
"Gue berubah ya??"
"Pake nanya lagi. Ya iyalah."
"Maaf. Gue ga tau gue berubah segitu banyaknya, tapi gue begini karna lingkungan yang gue jalani sekarang keras. Gue ga sepintar loe, Mike. Buat dapat nilai B, gue mesti belajar mati-matian."
"Loe kan bisa minta bantuan ke gue."
Gee ga menjawab, dia cuma terdiam dan terdiam.
"Gue sayang loe, Gee. Slamanya loe adalah teman baik yang paling gue sayangi. jadi jangan segan minta bantuan ke gue. Ngerti??" seru Mike sambil menjitak kepala Gee
"Sialan loe, Mike. Awas aja."
Tapi dalam hati Gee seneng, karna Mike masih sangat memperhatikan dirinya.
Dia pernah berharap dan akan terus berharap bahwa dalam hati Mike, dialah satu-satunya orang yang paling disayangi.
"Gee....gue pulang dulu ya. Ntal kalo gue uda balek dari Aussie, orang pertama yang gue cari, pasti loe."
"Janji??"
"Tentu aja."
***
to be continued