Sebelumnya, pada minggu lalu, kami sudah melakukan pendataan terhadap jumlah keluarga yang akan mendapatkan sembako. Kami mendata melalui keadaan rumah dan perekonomian mereka. Setelah didata, mereka akan mendapatkan sebuah kupon yang dapat ditukarkan dengan bahan sembako yang akan kami bagikan hari ini.
Jika para warga kehilangan kupon yang kami bagikan, makan sembako pun tidak dapat kami berikan. Supaya rasa adil itu ada, maka kami cukup tegas dalam masalah ini. Tidak ada kupon, maka tidak ada sembako yang dapat dibawa pulang.
Kami hanya berusaha mencegah beberapa kecurangan yang dapat disiasati oleh para warga setempat. Misalnya, tanpa kupon, mereka akan mengambil sembako beberapa kali dengan anggota keluarga yang berbeda. Ataupun keluarga dari lingkungan lain sengaja datang ke tempat sembako dibagikan dan mengaku-ngaku sebagai salah satu warga dari lingkungan sekitar.
Jadi sangat kecil kemungkinan bahwa ada warga ataupun keluarga yang belum mendapatkan kupon.
Hingga pembagian sembako berakhir, para warga yang mendemo di luar semakin banyak. Bahkan beberapa preman juga ikut hadir dan menjadi provokator.
Dalam waktu kurun setengah jam, akhirnya kami berhasil membebaskan diri dari kerumunan dengan meninggalkan beberapa anggota di sana untuk berdamai dengan mereka.
Sedangkan, aku beserta anggota yang lain segera menuju tempat kedua, yaitu sebuah panti asuhan Islam yang terletak di daerah Mabar.
Kami bersantap siang bersama, berdoa bersama hingga acara diakhiri dengan pembagian beberapa alat untuk keperluan sekolah hingga pakaian yang layak.
Pada hari ini, saat aku melihat mereka yang tersenyum karna sedikit bantuan yang kami berikan, aku merasakan setitik kehangatan dan kebahagiaan di dalam hati.
Indahnya berbagi.
Jika kami masih diberi kesempatan, maka kegiatan seperti ini akan kami selenggarakan kembali.













